previous arrow
next arrow
Slider

 

Hubungan perdagangan Indonesia-Bolivia dalam dekade terakhir belum menunjukkan potensi yang cukup besar. Meskipun Indonesia selalu mengalami surplus dalam nilai perdagangannya, namun terdapat keinginan yang cukup kuat dari kalangan pengusaha Indonesia untuk menciptakan hubungan bisnis yang meningkat dan saling menguntungkan dengan Bolivia. Hal ini yang menjadi pokok pembicaraan antara Duta Besar RI Lima merangkap Bolivia, Ibu Marina Estella Anwar Bey, dengan Presiden Kamar Dagang Bolivia (Camara Nacional de Comercio de Bolivia/CNC), Marco Antonio Salinas, dan Wakil Presiden CNC, Rolando Kempff Bacigalupo, pada tanggal 18 Desember 2018, di gedung pertemuan Circulo de la Union, La Paz.

CNC sebagai perwakilan dari komunitas pengusaha Bolivia membuka diri untuk melakukan kerja sama, khususnya di bidang perdagangan, dengan semua negara terlepas dari batasan kepentingan politik. Pandangan yang disampaikan oleh Presiden CNC tersebut merupakan tanggapan kalangan pengusaha Bolivia terhadap kondisi nasional Bolivia dalam 10 tahun terakhir yang cenderung tertutup bagi kerja sama ekonomi dengan negara lain. Untuk itu, CNC mengapresiasi kunjungan Duta Besar RI Lima dan memandang penting hubungan dan komunikasi yang baik dengan perwakilan asing dalam mendorong realisasi kerja sama antar asosiasi pengusaha kedua negara, terutama dalam mendiseminasikan secara reguler informasi potensi dan peluang kerja sama perdagangan.

Kedua belah pihak menyadari bahwa hubungan baik dengan asosiasi pengusaha merupakan pintu masuk untuk mewujudkan kerja sama bilateral dalam lingkup yang lebih luas. Terkait hal ini, Duta Besar RI menyampaikan bahwa kemudahan visa sangat diharapkan terutama oleh pengusaha Indonesia yang berminat mengembangkan perdagangan dan investasi di Bolivia. Terkait hal ini, CNC telah turut menyuarakannya secara formal ke Kementerian Luar Negeri Bolivia.

Bolivia memiliki beragam potensi kerja sama, khususnya di bidang perdagangan dan investasi yang masih terbuka. Beberapa produk ekspor unggulan Bolivia diantaranya kacang kedelai, hasil pertambangan (besi, zinclithium), quinoa, daging sapi, dan produk kayu. Sedangkan di bidang investasi, terdapat peluang kerja sama untuk pengembangan proyek energi, konstruksi dan rumah sakit, melalui skema pendanaan pemerintah.

Di sela-sela pertemuan dengan CNC, Duta Besar RI Lima telah menyerahkan Penghargaan Primaduta 2018 untuk kategori pasar prospektif kepada satu pengusaha Bolivia, yaitu Huarita Pinedo Freddy, yang mengimpor baterai kendaraan bermotor buatan Indonesia. Penghargaan diserahkan dalam sebuah acara sederhana dan ditutup dengan jamuan makan siang bersama dengan CNC dan pengusaha Bolivia yang berpartisipasi pada Trade Expo Indonesia ke-33.

Penerima Primaduta 2018 menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Pemerintah Indonesia atas penghargaan yang diberikan sebagai mitra perusahaan di Indonesia yang turut mengembangkan kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Bolivia. Huarita Pinedo Freddy telah mengimpor baterai kendaraan bermotor merek “GS” dan “Incoe” dari PT. Astra Otoparts Tbk. selama kurang lebih 14 tahun terakhir. Dalam kurun waktu tersebut, Huarita Pinedo Freddy mencatatkan nilai penjualan yang cukup baik, bahkan mencapai US$ 1 juta pada tahun 2015. Beberapa waktu yang lalu, PT. Astra juga memberikan piagam penghargaan kepada Huarita Pinedo Freddy atas pencapaian target penjualan dan apresiasi senilai US$ 17 ribu.​ (KBRI Lima)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest